Gamelan Satukan Dua Budaya

 

gamelan malaysia

Yogyakarta, MelayuOnline.com— Ketertarikan terhadap gamelan dapat mengantarkan pada dialog kebudayaan. Itulah yang terjadi Sabtu malam (18/10) di Balai Budaya Minomartani (BBM), Sleman, Yogyakarta. Di bawah terang lampu sorot, sebuah pertunjukan gamelan bersama menampilkan kelompok karawitan dari tiga universitas, yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Atmajaya Yogyakarta, serta Kelompok Karawitan Sanggar Kirana dari Universiti Teknologi Petronas (UTP), Malaysia.

Pementasan bersama ini bermula dari kerjasama UTP dan UGM dalam program Cross Cultural Exchange, di mana UTP membawa para mahasiswanya ke Yogyakarta dan Solo untuk mempelajari ihwal pembuatan alat musik gamelan dan cara pementasannya. “Kami ke sini untuk mempelajari gamelan secara lebih mendalam. Kemarin kami dari Solo juga, melihat langsung tempat pembuatannya,” tutur Mohamed Noor Rosli Bin Baharom, Direktur Pelayanan Mahasiswa UTP kepada Kru MelayuOnline.com.

Lebih lanjut, Mohamed Noor Rosli menjelaskan, meskipun para mahasiswa yang mendalami kesenian gamelan ini merupakan calon-calon insinyur, namun pengetahuan teknik juga harus dilengkapi dengan estetika. Dengan jiwa seni ini, diharapkan mahasiswa UTP lebih mampu menghayati setiap benda, alat-alat seni, cara pembuatannya, hingga cara memainkannya. “Pelajaran tentang gamelan ini sudah masuk kurikulum sejak tahun 2002. Namun, kami baru bisa berkunjung ke Yogyakarta tahun ini untuk melihat langsung asal alat musik ini,” tambahnya.

gamelan-malaysia- sri wisnu

Bagi Muhammad Nazmi Dawa, salah seorang mahasiswa UTP yang mengikuti program ini, berkunjung ke Yogyakarta merupakan pengalaman yang cukup berharga. “Di sini kami baru tahu ada public performance seperti ini. Di Malaysia belum ada, jadi kami bisa mengadaptasinya di Malaysia,” ujarnya.

Malam itu, setelah pementasan pertama berupa tari berjudul “Muratwangi” yang dibawakan oleh kelompok tari Gaya Surakarta (UGM), Kelompok Sanggar Kirana (UTP) unjuk kebolehan dengan memainkan beberapa komposisi klasik. Tak kurang dari tujuh pria dan tigabelas wanita memainkan alat-alat musik seperti kendang, rebab, celempung, gambang, dan gong dalam tempo lamban hingga cepat. Usai penampilan Sanggar Kirana, komposisi yang lebih kontemporer dan rancak kemudian dimainkan oleh kelompok karawitan Universitas Atmajaya.

Pementasan bersama ini diharapkan dapat merapatkan hubungan dua negara, terutama para mahasiswa untuk saling berdiskusi dan bertukar pikiran. Sebab, seperti diutarakan oleh Sukisno, panitia yang mewakili Balai Budaya Minomartani, melalui gamelan yang telah menjadi bagian dari warisan bangsa-bangsa ini dua negara dan dua budaya dapat saling memahami dan saling menyatu.

(Lukman Solihin/brt/23/10-08)

Sumber:  http://www.wisatamelayu.com/id/news/6251-Gamelan-Satukan-Dua-Budaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.