Wayang Kancil Rangkul Anak-Anak Untuk Berpartisipasi

wayang kancil anak - sri wisnu
20/12/2006 10:18

Kini sudah biasa bila pada pentas wayang kita akan   menemukan beberapa orang penyanyi yang mengiringi sambil menggoyangkan   pinggul. Ya, seiring dengan perkembangan masyarakat dan budaya dimana orang   kini lebih senang dengan sesuatu yang lebih dinamis, meriah, dan menghidupkan   maka wayang pun turut berkembang. Bukan lagi hanya sinden yang berperan   membawakan lagu-lagu untuk mengiringi dalang dalam pentas kini. Nampaknya   semua itu berujung pada satu hal, yakni menarik penonton untuk datang dan   betah menikmati wayang.

Bila orang dewasa saja sudah mulai tak betah dengan suatu   klenik gamelan yang pelan, bagaimana dengan anak-anak? Itulah sebabnya wayang kancil yang mulai berkembang pada tahun   90-an terus selalu berusaha untuk lebih berkembang. Bagaimana cara untuk   membuat anak-anak betah menyaksikan dan menyukai wayang, itulah yang   mendorong para dalang wayang binatang ini terus mencari cara baru.

Hadirlah pertunjukan baru pada pentas wayang yang  dipersembahkan khusus bagi anak-anak ini. Bukan hanya seorang dalang yang   mementaskan wayang dalam sebuah geber kecil dengan cerita kancil yang baik   hati dan pandai saja, namun dalam setiap pementasan, anak-anak dengan   berbagai kostum binatang turut dihadirkan untuk memeriahkan pentas ini.   Seperti pada wayang purwa yang menghadirkan para biduan layaknya grup campur   sari, pentas wayang kancil dipenuhi oleh puluhan anak yang mementaskan drama   mini menyambung cerita wayang dari para dalang.

wayang kancil - sri wisnu

Itulah yang dihadirkan pada pentas seni yang   diselenggarakan di pusat pengembangan budaya jawa, Balai Budaya Minomartani,   November lalu. Sajian pentas wayang kancil semakin meriah dengan hadirnya   tiga dalang dan beberapa tokoh binatang seperti kijang, burung, dan kelinci   yang diperankan anak-anak. Pengiring atau penabuh gamelannya memang bukan   anak-anak, tetapi aransemen terhadap lagu-lagu dolanan yang menjadi sountrack   cerita kancil mampu membuat para penonton yang hadir sumringah dan   bersemangat.

Bayolan dari para dalang yang membawakan kisah serakahnya   manusia pada alam membuat para penonton yang bukan hanya anak-anak itu   bergelak tawa. Peragaan penebangan hutan diperjelas dengan dihadirkannya   potongan dahan pohon. Semua itu ditujukan untuk memperjelas gambaran   anak-anak akan sebuah kisah dimana pesan sosial mengenai perlunya menjaga   alam disampaikan oleh para dalang.

Itulah sebenarnya yang selalu ingin disampaikan dalam   setiap pentas, pendidikan bagi anak sejak dini, ungkap salah satu pengembang   wayang kancil, Sukisno. Mengenai terobosan baru untuk memasukan partisipasi   anak-anak sebagai pengganti peran beberapa binatang, salah satu dalang,   Bambang Sulanjari mengaku bahwa hal ini telah ada cukup lama dan ia berharap   untuk terus berkembang. Mari kita ikut menjaga dan mengembangkannya, atau   paling tidak ikut menikmati. (les)

 

Sumber:   http://www.trulyjogja.com/index.php?action=news.detail&cat_id=7&news_id=947

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.