Wayang Kancil, Pendidikan Anak Hingga Eksistensinya

wayang kancil  - sri wisnu

Kancil merupakan tokoh legendaris pada dongeng yang melekat dalam kasanah kebudayaan nusantara, khususnya Jawa. Tokoh sang kancil selalu diceritakan dalam bentuk dongeng juga melalui cerita wayang binatang yang dikenal dengan nama wayang kancil. Menurut Faisal Nur Singgih Pelatih Sanggar Peking Wayang Kancil Yogyakarta, apresiasi wayang kancil mulai dilakukan pada tahun 1997.

Wayang kancil sebenarnya sudah ada sejak tahun 1925 sebagai ajaran kebatinan sesungguhnya. Tapi karena medianya dengan dongeng fabel maka sangat baik jika untuk pendidikan bagi anak-anak,” tukasnya saat ditemui di Balai Budaya Minomartani Yogyakarta Rabu (8/12) pagi.

Faisal mengungkapkan, wayang kancil memang terus dipelihara dengan cara melakukan pertunjukan-pertunjukan dimana-mana tentunya dengan penonton anak-anak. “Penonton anak-anak dirasa sangat cocok karena dari segi cerita dan tokoh yang muncul dalam seluruh pertujukan wayang kancil ini memang tidak jauh dari dunia anak-anak. Memang dalam cerita itu ada tema atau maksud yang hendak ditanamkan pada anak-anak untuk berbuat baik dalam tataran norma,” lanjutnya.

Selain makna yang hendak disampaikan, menurut Faisal, untuk terus mengenalkan secara dini apa itu wayang kancil dan tetap mendapatkan tempat di hati masyarakat melalui anak-anak bahwa wayang kancil ini masih ada dan terus dipertahankan. “Persatuan Dalang Indonesia di Yogyakarta juga beberapa waktu lalu juga membuat tour pertunjukan wayang kancil di sekolah dasar yang ada di Yogyakarta. Walaupun temanya beragam namun intinya untuk terus mengenalkan wayang dalam bentuk miniatur dan sederhana sehingga ketika anak-anak itu berkembang menjadi dewasa maka tidak menjadi kendala untuk menikmati wayang dalam bentuk yang lain pula,” terangnya.

Tokoh sang kancil digambarkan sebagai binatang yang kecil, cerdas dan arif. Cerita ini merupakan simbol pendidikan budi pekerti bagi anak-anak. “Sebagai dalang wayang kancil, ingin memajukan agar pemerintah daerah memperhatikan wayang kancil karena selama ini pergeseran dari kebudayaan barat kepada kebudayaan timur yang salah satunya berupa wayang kancil semakin kuat,” ungkap Yayan.

Perlunya dilestarikan, menurut dalang yang berumur 18 tahun tersebut menjadi suatu prioritas agar tetap dapat terus dilestarikan oleh generasi muda berikutnya. “Sebenarnya permainan yang sudah maju ada banyak, tapi kalau kita bisa mencari suatu yang enak di wayang kancil ini ya kita nggak akan bosen untuk terus mendengarkannya apalagi menjadi dalang wayang kancil,” ujar Yayan.

Yayan sendiri termotivasi untuk memahami wayang kancil karena rasa penasarannya seberapa berat untuk menjadi dalang walau masih berskala wayang kancil. “Ternyata bukan hanya menggerakkan wayang ditangan tapi juga punya cerita yang harus diikuti dan ada arti sendiri yang perlu disampaikan kepada pentonton arti cerita dari awal hingga akhir permainannya,” tambahnya.

Pelestarian wayang kancil ini diharapkan menjadi jembatan bagi anak-anak untuk mencintai budaya wayang dalam bentuk bagian yang kecil sehingga anak-anak lebih mencintai alam dan sekitarnya. (antok-gudegnet)

Sumber:

http://jogjanews.blogspot.com/2004/12/wayang-kancil-pendidikan-anak-hingga.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.